Karena Visi yang Spektakuler adalah Kunci !


Pedagang Kaki Lima Yang Tidak Biasa

Bercakap-cakap dengan profil yang satu ini membuat saya terpana. Apa iya bapak ini pedagang kaki lima”biasa-biasa”, apa iya dulu ia pernah berjualan mie ayam yang harus bersusah payah menyodok-nyodok tenda saat hujan agar airnya mengalir rata?

Atau apa benar ia dulu pernah mangkal di depan kampus UNAS Pasar Minggu dengan omzet hanya 300-500 ribu saja sehari belum dipotong ongkos produksi?
Ah, ternyata benar.

Masih Mas Komeng yang saya kenal saat kuliah dulu. Saat masih mangkal di depan kampus saya dulu. Masih Mas Komeng yang jatuh bangun jualan mie ayam sampai soto ayam dan berpindah-pindah tempat mencari yang pas sampai akhirnya hari ini saya melihatnya lebih mapan dari dulu. Dengan outlet yang sederhana tapi ramainya seperti pom bensin di bilangan Salihara, kampus UNAS Pejaten Pasar Minggu.
Visi Spektakuler Namun Realistis

So, apakah ada keajaiban? atau menang lotere? atau ada rezeki jatuh dari langit atau bagaimana sehingga  dalam 4 tahun progres yang sangat signifikan bisa diraih begitu saja? Itu pertanyaan pertama saya pada pria berlogat betawi namun asli campuran Solo dan Tegal ini.

Tapi dengan gamblang, lugas dan tegas ia menjawab bahwa keinginan untuk berubah menjadi lebih baik dan tidak mau miskin itulah yang membuatnya giat mengubah hidup dan tidak puas hanya dengan, berbelanja bahan baku, mengolah masakan, menjualnya dan selesai. Tidak.

Ia tidak puas hidup dengan rutinitas dan label sebagai pedagang kaki lima seumur hidupnya. Ia ingin berubah.

Yes, percaya diri. Itu yang saya tangkap dari “mantan” pedagang kaki lima yang memiliki 5 orang karyawan dan omzet rata-rata tiga setengah jutaan per hari ini. (Besar lho  untuk ukuran outlet sederhana berukuran 6×6 saja). Percaya diri jelas modal mental yang tidak bisa diabaikan.
“Saya sudah puas dan kenyang dengan jatuh bangun dan susahnya jadi pedagang kali lima. Jadi melihat teman-teman saya para pedagang kaki lima yang ibaratnya “satu angkatan” masih begitu-begitu saja, tergerak hati saya untuk memajukan mereka juga. Agar mereka bisa mengubah hidupnya dengan lebih baik dan lebih mapan, kuncinya hanya satu, punya visi yang jelas, “ kata Komeng yang banyak menjadikan nama dan figur besar sebagai motivatornya.
Berkah itu datang, kalau memang boleh dianggap berkah, ketika suatu saat di tahun 2009, mantan putri Indonesia, Cory Sandioriva bertandang ke tempatnya dan makan disana. Wah seolah mendapatkan tiket jalan tol menuju kemajuan dan kesuksesannya.
Tak heran, karena memang lezat dan gurihnya ayam kremes buatan Komeng ini lain daripada yang lain. Terutama ayam nano-nano dengan rasa pedas, manis dan legitnya mengigit lidah membuat ketagihan. Mungkin itulah sebabnya kenapa banyak artis dan tentu saja mahasiswa yang makan di tempat Komeng.
Tidak mungkin tidak ada persaingan, kompetitor pastilah ada. Apalagi ladang jual yang diambil notabene banyak pemainnya. Komeng menyikapinya dengan tetap berpikir jernih. Prinsip saling menjatuhkan apalagi sampai main curang tidak ada dalam kamusnya. Jika sekali emosi karena ada teman main yang bersaing tidak sehat ya wajar, tapi tidak membuat ia lantas jadi freak.
Karena faktor kompetitor yang bersaing agak curang ini pula-lah yang menjadi motivasi Komeng untuk “melahirkan” menu masakan baru si ayam nano-nano itu tadi. Bukan ayam bakar, bukan ayam ungkep dan dan bukan ayam semur biasa, tapi resep rahasia yang diciptakannyalah yang membuat ayam nano-nano laris manis dicari pelanggan.
“Saya enggak takut persaingan, asalkan kita punya ciri khas, punya mutu dan kualitas plus ditambah visi itu tadi, pasti dengan sendirinya akan bertahan, maju dan berkembang,” cerita  profil pedagang yang berwawasan pengusaha besar ini menuturkan.
Karena keinginannya untuk tidak mandeg dan ingin berkembang itulah dalam 4 tahun kedepan ia punya visi misi besar  dan wajib ia capai yaitu ingin punya food court gratis tempat para pedagang kaki lima nyaman berjualan dan mengembangkan kreatifitasnya disana. Ada 17 macam masakan khas pedagang kaki lima yang ingin Komeng fasilitasi.
Mimpi yang harus ia wujudkan ini memang banyak dipandang miris untuk sebagian orang yang tidak percaya diri, tapi Komeng yakin bisa mewujudkannya. Berdasarkan semua pengalaman hidupnya berdagang selama ini. Bahwa pedagang kaki lima tersendat dan tidak maju rata-rata masalahnya hanya karena  kurangnya tempat yang yang strategis dan nyaman, tidak adanya fasilitas gratis untuk membuat mereka nyaman dan aman berdagang. Sehingga bagaimana mungkin bisa berkreatifitas dengan masakannya, atau makanannya jika setiap saat harus was-was memikirkan uang sewa atau bahkan digusur petugas kamtib karena dianggap berdagang liar di trotoar?
So, di luar dari keinginan semakin larisnya ayam kremes buatannya (juga ayam nano-nano) sangat jauh sebenarnya visi Komeng ke depannya, karena berangkat dari keprihatinan inilah Komeng dengan mantap menunggu kesempatan, memanfaatkan peluang dan menunggu sambutan dari mereka yang bervisi sama dengannya, ingin memajukan pedagang kaki lima.
Keinginan untuk me-waralabakan usahanya sudah pasti ada dalam perhitungan, termasuk ke karyawan-karyawannya, Komeng tidak takut jika mereka suatu saat berkembang sendiri dan membuka usaha serupa, atau bahkan membeli mereknya, justru ia sangat bangga.

Jelaslah sudah apa yang saya tangkap dari profil entrepreneur yang satu ini, semangat dan rasa percaya diri ditambah kemauan untuk menambah wawasan lah yang membuatnya berhasil seperti sekarang. Visi yang jelas dan spektakuler adalah kunci suksesnya.

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s